Burung Gereja

Suatu ketika, seorang ayah berumur 63 tahun duduk bersama dengan anaknya di sebuah kursi taman yang terletak di tengah-tengah halaman rumah mereka yang indah. Rumah inilah yang menjadi tempat anak tersebut dibesarkan hingga sekarang dirinya menjadi seorang wirausahawan yang sukses.

Suasana saat itu dihiasi dengan teriknya matahari dan suara kepakan sayap burung-burung yang beterbangan kesana-kemari dengan tujuan yang tidak bisa ditebak. Saat burung gereja hinggap di atas pohon, sang ayah bertanya untuk memecah kesunyian, “apa itu?”

Sang anak yang sedari tadi sedang membaca koran menghentikan bacaannya, melihat ke arah pepohonan, dan kemudian melanjutkan bacaan koran yang sempat terhenti sambil menjawab singkat, “itu burung gereja.”

Sekarang burung gereja itu pun hinggap di tanah, dan sang ayah bertanya kembali, “apa itu?” Kali ini, tanpa menghentikan bacaan korannya sedikit pun, sang anak menjawab dengan sedikit kesal, “itu burung gereja, ayah. Burung gereja.”

Mungkin karena belum puas dengan jawaban anaknya, sang ayah bertanya kembali, “apa itu?” Sang anak pun menghempaskan korannya, meluapkan kekesalannya karena sang ayah selalu menanyakan hal yang sama. Sang anak menjawab dengan nada bicara yang tinggi, “bukankah sudah aku bilang daritadi kalau itu adalah burung gereja?! G-E-R-E-J-A!!!”

Mendengar jawaban seperti itu, tanpa banyak komentar, sang ayah langsung masuk ke dalam rumahnya. Sang anak bertanya, “mau kemana kau, ayah?! Hei, dengarkan aku!”

Tak lama kemudian, sang ayah kembali ke taman untuk menghampiri anaknya. Ayah datang dengan membawa sebuah buku yang terlihat sudah sangat tua. Kelihatannya buku ini sudah lama sekali dibuat. Sang ayah memberikan buku itu pada anaknya, “baca tulisan ini. Baca yang keras.”

25 tahun yang lalu, aku dan anakku yang berumur 5 tahun saat itu, sedang duduk berdua di sebuah kursi taman yang ada di tengah-tengah halaman rumah kami. Suasana taman ketika itu sangat indah. Terdengar juga kepakan sayap-sayap burung yang beterbangan kesana-kemari.

Anakku bertanya, “apa itu?” Aku pun menjawab, “itu burung gereja, nak.” Tidak lama kemudian, ia menanyakan hal yang sama. Aku menjawab, “itu burung gereja, anakku sayang.” Aku ingat sekali saat itu. Anakku menanyakan hal yang sama sebanyak 25 kali, dan aku juga menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban yang sama. Sungguh tidak ada rasa kesal sedikit pun. Aku peluk dan aku gendong anakku setiap ia menanyakan itu sambil menjawab, “itu burung gereja, anakku yang tampan.”

Aku harap kehangatan ayah dan anak ini bisa berlangsung hingga akhir hayatku, hingga nanti saatnya bagi anakku untuk memanjakan aku.

Sang anak tidak mampu berkata apa-apa lagi. Terlihat dirinya menitikkan air mata karena ia terharu dengan apa yang dibacanya, karena ia merasa telah mengecewakan orang tuanya, karena ia merasa tidak dapat memenuhi harapan orang tuanya. Tanpa banyak basa-basi lagi, dipeluknya ayahnya sambil berkata, “ayah, maafkan aku. Aku sayang padamu, ayahku yang tampan.”

Advertisements

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s