Dibalik Try Out UKMPPD AIPKI 141

Kemarin, hari Sabtu, tanggal 14 Januari 2017, saya mengikuti kegiatan Try Out Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (TO UKMPPD) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). Kegiatan ini bertempat di kampus saya, yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Riau. TO UKMPPD AIPKI 141 yang dituliskan pada judul tulisan ini maksudnya adalah TO kali ini dilaksanakan pada tanggal 14 Januari 2017 (14-1-2017). Saya ingin menjelaskan sedikit tentang apa yang dimaksud dengan UKMPPD dan proses yang dilalui untuk dapat mengikuti UKMPPD.

Program pendidikan di Fakultas Kedokteran (FK) dibagi menjadi dua tahap, yaitu program pendidikan dokter dan program profesi dokter. Mahasiswa pendidikan dokter mengikuti serangkaian proses pendidikan di kampus Fakultas. Seperti layaknya mahasiswa di fakultas lain, mahasiswa pendidikan dokter akan mengikuti kuliah yang disampaikan oleh dosen dan beberapa praktikum yang menunjang proses pembelajaran serta membuat tugas akhir berupa skripsi. Setelah selesai mengikuti program pendidikan dokter, seorang mahasiswa berhak mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) di belakang namanya. Lama program pendidikan dokter bervariasi, bisa selama 3,5 tahun atau bahkan 4 sampai 5 tahun, tergantung kebijakan masing-masing fakultas/universitas dan kebijakan diri mahasiswa itu sendiri *maksudnya seberapa kuat keinginan mahasiswa tersebut untuk cepat menyelesaikan pendidikan :)

Setelah berhasil memperoleh gelar S.Ked, sebenarnya mahasiswa dapat memilih akan melanjutkan pendidikannya ke program profesi dokter atau ke program pascasarjana S2, seperti Magister Kesehatan, Magister Kesehatan Lingkungan, Magister Ilmu Biomedik, dll., karena mahasiswa yang mendapatkan gelar S.Ked sudah setara dengan lulusan S1 dari fakultas lainnya. Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), seperti Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Bedah, dll., belum dapat diambil oleh mahasiswa S.Ked karena harus mendapatkan gelar profesi dokter (dr.) terlebih dahulu untuk masuk PPDS. Kebanyakan mahasiswa memilih dan kebanyakan fakultas “mengarahkan” mahasiswanya untuk langsung melanjutkan pendidikan ke program profesi dokter. Mari kita fokuskan pembahasan kita ke program profesi dokter.

Mahasiswa program profesi dokter disebut juga dengan dokter muda atau koass (co-ass, singkatan dari co-assistant). Mahasiswa profesi dokter menjalankan proses pendidikannya di rumah sakit pendidikan yang bekerja sama dengan masing-masing Fakultas Kedokteran. Pada program profesi dokter, dokter muda dapat berinteraksi langsung dengan pasien di rumah sakit dan menerapkan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah. Lama program profesi juga bervariasi, bisa 1,5 tahun hingga 2 tahun, dan dokter muda akan menjalani pendidikan di berbagai bagian atau stase yang ada di rumah sakit, seperti ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, ilmu bedah, obstetri-ginekologi (kebidanan dan kandungan), dll. Setelah menyelesaikan program profesi dokter, mahasiswa dapat memperoleh gelar profesi dokter (dr.). Namun, ada satu “rintangan” lagi yang harus dihadapi sebelum bisa mencantumkan gelar dokter di depan namanya, yaitu UKMPPD.

Layaknya siswa SMA yang mengikuti Ujian Nasional (UN) untuk dapat lulus dari SMA dan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, kami mahasiswa program profesi dokter diharuskan untuk mengikuti sebuah uji kompetensi untuk dapat lanjut ke jenjang berikutnya, yaitu menjadi seorang dokter yang bertugas di tengah masyarakat. Uji kompetensi tersebut adalah UKMPPD. Seorang mahasiswa program profesi dokter yang telah lulus dari UKMPPD “diakui” memiliki kompetensi standar untuk menjadi seorang dokter. Tidak sedikit mahasiswa yang tersandung di UKMPPD ini. Oleh karena itu, pemerintah memiliki niat baik untuk membantu mahasiswanya melewati UKMPPD, yaitu dengan menyelenggarakan try out (TO) untuk memberikan “sedikit” gambaran tentang UKMPPD kepada para mahasiswa sebelum menjalani ujian yang sesungguhnya. UKMPPD diselenggarakan oleh AIPKI. Sebenarnya AIPKI tidak mengharuskan mahasiswa program profesi dokter untuk mengikuti TO UKMPPD, namun beberapa Fakultas Kedokteran mengharuskan mahasiswanya untuk mengikuti TO UKMPPD dengan tujuan meningkatkan kemungkinan lulus seluruh mahasiswanya dalam UKMPPD. Kampus saya, Fakultas Kedokteran Universitas Riau (FK UR), merupakan salah satu fakultas yang menerapkan kebijakan tersebut. Untuk dapat mengikuti TO UKMPPD, seorang mahasiswa profesi dokter tidak harus menyelesaikan seluruh stase pendidikannya terlebih dahulu. Mahasiswa yang masih menjalani program profesi dokter dapat mengikuti UKMPPD, tentunya setelah mendapat izin dari bagian atau stase rumah sakit yang sedang dijalaninya.

TO UKMPPD @ FK Universitas Gadjah Mada

Wah, panjang sekali ternyata pembahasannya, eh pembukaan maksudnya hahaha :) Harap maklum ya, karena sudah lama saya tidak menulis. Jadi kebablasan deh ke tulisan ini :)

Mari kita masuk ke intinya. Pelaksanaan TO UKMPPD berjalan dengan lancar. Sistem computer based test yang diterapkan sangat meningkatkan efisiensi pelaksanaan ujian. Peserta ujian tidak perlu lagi menghabiskan waktu lama untuk “menghitamkan” jawaban seperti pada ujian dengan sistem paper based test. Namun, ada sedikit cerita dari kampus saya pada pelaksanaan TO UKMPPD kemarin. Ada beberapa “bangku kosong” yang terlihat dalam pelaksaan ujian kemarin. Beberapa mahasiswa yang telah terdaftar sebagai peserta ujian tidak dapat mengikuti TO UKMPPD. Seingat saya ada 11 orang peserta yang tidak bisa mengikuti ujian TO tersebut, 1 orang sedang sakit dan 10 orang lainnya tidak mendapatkan izin dari stase rumah sakit yang sedang dijalaninya. Disinilah letak masalahnya!

Pihak fakultas telah menyatakan bahwa TO UKMPPD harus diikuti oleh mahasiswa program profesi dokter sebanyak 2 kali, sehingga untuk “mempercepat” proses pendidikannya, mahasiswa tidak ingin baru mengikuti TO UKMPPD setelah menyelesaikan seluruh stasenya di rumah sakit. Hampir seluruhnya berpikiran seperti itu. TO UKMPPD kemarin dilaksanakan pada hari Sabtu dan pada hari tersebut semua kegiatan profesi dokter di rumah sakit berjalan seperti biasa, tidak diliburkan. Jadi, jika ingin mengikuti TO UKMPPD, mahasiswa profesi dokter harus izin tidak mengikuti kegiatan selama satu hari tersebut.

Pihak fakultas telah mengirimkan surat ke masing-masing stase rumah sakit agar memberikan izin untuk tidak mengikuti kegiatan stase kepada mahasiswa yang ingin mengikuti TO. Memang benar adalah hak dari pihak stase rumah sakit untuk membuat keputusan memberikan izin atau tidak kepada mahasiswanya, namun mengingat sudah ada pernyataan sebelumnya bahwa TO UKMPPD merupakan suatu keharusan, stase rumah sakit sebaiknya memberikan izin untuk menunjang kelancaran proses pendidikan profesi. Sungguh sangat disayangkan jika pihak stase rumah sakit tidak memberikan izin. Disamping uang pendaftaran yang menurut saya tidak murah itu lenyap begitu saja, lama pendidikan profesi akan menjadi lebih panjang karena harus menunggu TO UKMPPD berikutnya sekitar 3 bulan kemudian. Jika memang stase rumah sakit tidak mau memberikan izin, sebaiknya hal tersebut telah diberitahukan jauh-jauh hari sebelumnya.

Pihak kampus diharapkan memberikan solusi untuk mengatasi masalah ini dan mencegah kejadian ini terulang kembali pada pelaksanaan TO UKMPPD yang akan datang. Menurut saya, beberapa solusi yang dapat dilakukan adalah:

  • Pertama, menghapus kebijakan mengharuskan mahasiswa profesi dokter mengikuti TO UKMPPD dan digantikan dengan mengadakan bimbingan UKMPPD kepada mahasiswa untuk membantu meningkatkan kemungkinan lulus mahasiswa dalam UKMPPD (bimbingan UKMPPD telah dilaksanakan di FK UR dan mahasiswa diharuskan untuk mengikuti bimbingan tersebut). Mahasiswa profesi dokter masih bisa mengikuti TO UKMPPD secara sukarela.
  • Kedua, mengubah kebijakan mahasiswa profesi dokter mengikuti TO UKMPPD sebanyak 2 kali menjadi 1 kali, sehingga mahasiswa profesi dokter dapat mengikuti TO UKMPPD yang diadakan tepat sebelum jadwal UKMPPD yang akan diikutinya. Hal ini akan “menghemat” waktu pendidikan profesi dokter dan mengurangi kemungkinan bentroknya jadwal TO UKMPPD dengan jadwal stase di rumah sakit, karena kemungkinan besar mahasiswa sudah menyelesaikan seluruh stase rumah sakitnya saat mengikuti TO.
  • Ketiga, sosialisasi kembali peraturan yang mengharuskan mahasiswa profesi dokter mengikuti UKMPPD serta meningkatkan koordinasi antara pihak kampus dan pihak stase rumah sakit sehingga pihak stase rumah sakit dapat memberikan izin kepada mahasiswanya yang ingin mengikuti TO UKMPPD.

Apakah teman-teman memiliki usulan solusi juga? Monggo disampaikan :)

Semoga pihak kampus FK UR dapat mengatasi masalah ini dan semoga kejadian ini tidak terjadi lagi pada pelaksanaan TO UKMPPD yang akan datang. Saya mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam tulisan ini karena manusia memang tempatnya kesalahan.

Ya, inilah cerita dibalik TO UKMPPD AIPKI 141 :)

Advertisements

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s