Dari Hati ke Hati ?

Syukur alhamdulillah karena Allah SWT masih memberikan kesempatan serta berkah dan rahmat-Nya kepada diriku sehingga diriku dapat melangkahkan kaki ke rumah Allah pada malam ke-2 di bulan Ramadhan 1438 H untuk melaksanakan serangkaian ibadah di malam Ramadhan. Semoga kita semua selalu diberkahi dan diberikan kesempatan oleh Allah untuk menjalankan ibadah di hari-hari berikutnya pada bulan Ramadhan tahun ini. Aamiin ya Allah, ya rabbal ‘alamin.

Ada sedikit kejanggalan yang aku temukan dalam agenda Ramadhan malam ini yang disusun oleh pengurus masjid di dekat rumahku. Ada sebuah agenda yang diberi nama “dari hati ke hati”. Tujuan dari agenda tersebut adalah mengumpulkan infaq dan sedekah dari jamaah masjid yang hadir. Namun, yang menjadi janggal adalah pengumpulan infaq dan sedekah itu dipimpin oleh seorang pembawa acara dan dilakukan secara terang-terangan di hadapan seluruh jamaah yang hadir pada malam itu. Jika ada jamaah yang ingin menyumbang, jamaah tersebut akan mengangkat tangan dan kemudian menyebutkan berapa jumlah uang yang akan disumbangkan olehnya. Pembawa acara acap kali memancing tokoh-tokoh masyarakat untuk menyumbang, misalnya ketua pengurus masjid, perwakilan RT, perwakilan RW, dan lain-lain.

Seperti yang aku perkirakan, suasana saat itu cukup hening dan tidak sedikit jamaah yang merasa heran. Aku rasa banyak jamaah lain merasakan kejanggalan yang sama denganku. Aku ingat-ingat kembali saat Ramadhan tahun lalu. Ya, agenda seperti itu sudah mulai diadakan sejak tahun lalu dan masjid-masjid lain juga ada yang mengadakan agenda yang sama, karena aku pernah mendengarkan kejanggalan yang sama dari temanku yang melakukan ibadah di masjid lain. Bukankah hal seperti itu terkesan riya? Bukankah cara seperti itu terkesan memamerkan perbuatan baik yang dilakukan? Aku juga heran mengapa agenda ini dinamakan “dari hati ke hati”. Jika memang ini merupakan agenda dari hati ke hati, bukankah akan lebih baik jika seorang pengurus masjid langsung bertatap muka secara personal kepada masing-masing jamaah?

Jika ingin memandang agenda ini secara positif, agenda ini memang bisa memacu semangat jamaah untuk fastabiqul khairat, untuk berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan. Ketika kita melihat seorang jamaah ikut bersedekah, tentu timbul pertanyaan di benak kita, “mengapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama? Mengapa kita tidak bisa menyumbang juga dalam hal kebaikan?” Hal ini akan menumbuhkan keinginan untuk ikut menyumbang dalam hal kebaikan yang akan semakin besar seiring banyaknya jamaah yang menyumbang secara “terang-terangan”.

Hal-hal yang tertulis di atas merupakan pemikiran dari diriku sendiri, seorang manusia yang memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, terutama dalam memikirkan tentang perilaku manusia yang dapat dengan mudah dibolak-balikkan oleh Allah SWT. Mohon maaf jika terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam tulisan di atas karena manusia memang makhluk yang tidak bisa lepas dari kekurangan dan kesalahan. Mohon maaf jika hal di atas kurang berkenan untuk beberapa pihak. Tidak ada maksud untuk berprasangka buruk sedikit pun. Tentu aku akan sangat berterima kasih jika ada pembaca yang ingin menyampaikan pendapatnya atau bahkan melakukan klarifikasi sejelas-jelasnya terkait agenda tersebut.

Sekian dan terima kasih.

Pekanbaru, 27 Mei 2017
Bayu Fajar Pratama

Advertisements