The Beginning

Tanggal sebelas, bulan tujuh, tahun dua ribu tujuh belas. Bukan, itu bukan tanggal dari hari kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tanggal tersebut, sebanyak tiga puluh tiga orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Riau (FK UR) diambil sumpahnya untuk menjalankan profesi sebagai dokter, termasuk saya sendiri *tiba-tiba merasa seperti sedang menulis visum et repertum karena semua angka ditulis dengan huruf *rasa bangga yang ada di paragraf ini rusak seketika -_-

Bertepatan dengan hari Selasa, tanggal 11 Juli 2017, FK UR menggelar Yudisium dan Sumpah Dokter ke-40 dengan jargon “Sumpah Dokter 40… Jaya! Jaya! Jaya!” yang dibuat dadakan saat sesi foto bersama di atas panggung :D Sumpah dokter selalu menjadi momen yang sangat membanggakan, seolah-olah sangat disayangkan jika ada satu detik yang terlewatkan untuk diabadikan *oke, ini berlebihan *abaikan

Syukur alhamdulillah saya dapat menyelesaikan pendidikan dokter di FK UR pada tahun ini. Enam tahun proses pendidikan di Fakultas Kedokteran memang perjalanan yang sangat panjang. Saat teman-teman yang mengenyam pendidikan tinggi di jurusan lain sudah mendapatkan pekerjaan dan memiliki penghasilan sejak satu atau bahkan dua tahun yang lalu, saya dan dokter-dokter muda (baca: koass) lainnya yang senasib masih saja sibuk mengerjakan laporan dan makalah, membolak-balikkan halaman textbook (jika punya), dan “bekerja” tanpa bayaran. Tetapi, ingatlah kawan-kawanku, semua hal itu membentuk kita menjadi pribadi seorang dokter yang kuat dan tahan banting, namun tetap saja tidak kebal terhadap hukum dan tuntutan pihak tertentu *eh *ganti topik pembicaraan

Berakhirnya pendidikan di Fakultas Kedokteran dan pengambilan sumpah dokter bukan berarti akhir dari segalanya. It’s not the end. It’s just the beginning. Semuanya bermula dari hari pengambilan sumpah kita. Jika ditanya “gimana sekarang perasaannya udah jadi dokter?”, saya akan menjawab, “saya takut, tetapi saya harus bangga”. Mengapa? Profesi kedokteran merupakan profesi yang sangat mulia dan “dimuliakan”. Seorang dokter harus diambil sumpahnya sebelum menjalankan profesi kedokteran. Saya masih ingat lafal sumpah yang kami ucapkan itu sempat membuat saya merinding! Seorang dokter akan menjadi teladan dimana pun ia berada. Saya takut tidak bisa memberikan teladan yang baik. Semua orang akan meletakkan harapan terbesarnya kepada seorang dokter untuk menyembuhkan penyakit yang sedang dideritanya. Tidak jarang seorang dokter akan berada pada kondisi dimana hidup dan mati seorang pasien hanya berjarak satu goresan pena. Saya takut tidak sanggup memenuhi harapan yang sangat besar tersebut. Di sisi lain, saya harus bangga karena saya telah diamanahkan sebuah profesi yang sangat mulia dan istimewa. Tidak banyak profesi yang memulai karirnya dengan pengambilan sumpah. Hal tersebut merupakan bukti bahwa profesi kedokteran merupakan profesi yang sangat mulia. Saya bangga dan saya akan melakukan yang terbaik!

Wal akhir, terima kasih yang sebesar-besarnya saya hadiahkan untuk keluargaku tercinta. Terima kasih papa, mama, adek Ulva, dan adek Dian yang selalu memberikan dukungan dan selalu percaya bahwa Bayu bisa jadi dokter, walaupun tahu Bayu susah menghafal dan selalu remedial ujian biologi saat SMA. Syukur alhamdulillah papa dan mama bisa melihat Bayu diberi gelar dokter dan semoga Bayu bisa memberikan manfaat sebanyak-banyak kepada semua orang di sekitar Bayu, terutama papa dan mama. Aamiin aamiin ya Allah, ya rabbal ‘alamin o:)

Beribu-ribu ucapan terima kasih serta rasa cinta sedalam-dalamnya teruntuk (calon) istriku, Hilda Fauziah Lainatus Shifa. Terima kasih karena selalu memberikan motivasi. Terima kasih karena selalu mengingatkan di saat saya salah. Terima kasih karena selalu memberikan saran yang membuat saya menjadi lebih baik. Terima kasih karena selalu ada untukku di saat susah dan senang. Terima kasih… Terima kasih… Terima kasih… Dan terima kasih seterus-terusnya sampai beribu-ribu :D Semoga selalu diberi kemudahan dalam setiap urusan dan lancar koass nya. Semoga bisa cepat selesai koass, bisa cepat lulus UKMPPD, bisa cepat jadi dokter, dan yang paling penting: kita bisa cepat menikah. Aamiin aamiin ya Allah ya rabbal ‘alamin o:)

Penghormatan dan terima kasih yang sangat besar untuk guru-guruku di FK UR, RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau, RS Bhayangkara Pekanbaru, RSJ Tampan, KKP Kota Pekanbaru, PT. RAPP Pangkalan Kerinci, Puskesmas Minas, dan guru-guru lainnya yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Salam serta doa semoga sehat dan sukses selalu dariku untuk semua guruku. Tiada ilmu yang bisa saya dapatkan jika bukan engkau yang mengajarkannya kepada kami. Terima kasih telah menuangkan ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat ke dalam cangkir-cangkir pikiran kami yang kosong dan belum ada apa-apanya.

Terima kasih yang sangat besar juga teruntuk teman-temanku angkatan 2011 FK UR dan rekan-rekan seperjuangan lainnya di hutan belantara kedokteran. Salam dan doa semoga sukses selalu dariku untuk kalian semua. Cepat jadi dokter ya semuanya. Kita semua pasti bisa! :D

Sampai jumpa di luar sana, semuanya. Semoga kita tidak sering-sering ketemu, ya *maksudnya semoga sehat selalu :D

Pekanbaru, 16 Juli 2017
Bayu Fajar Pratama

Advertisements

4 thoughts on “The Beginning

  1. Riandy 17 July 2017 / 18.24

    Menikmati tiap tulisan kau dari paragrap 1 sampe akhir.

    syarat nikah ga perlu tamat ujian UPMPPD itu bay :p wkwkkwkw semoga cepat nyusul yah, praktek dimana sekaraaaang?

    btw kita tetanggaan loh bay, rumah kau masih di pasir putih?

    Like

    • Bayu Fajar Pratama 18 July 2017 / 19.39

      Aku pun menikmati tulisan di blogmu dari awal sampai akhir ndi :D

      Aamiin ya Allah. Makasih banyak doanya ya o:)

      Belum praktek aku ndi. Belum bisa buka praktek sendiri. Harus ikut program pengabdian dulu 1 tahun, habis itu baru bisa buka praktek

      Eh serius? Dimana rumahmu sekarang ndi? Iya rumah aku masih disitu kok

      Like

      • Riandy 19 July 2017 / 09.18

        Ooo begitu, siap jadi langganan kalau kau buka praktek Bay hahahaha. Rumah awak di Sakuntala, sering kali lewat rumah kau (pasir putih) hahaha

        Like

        • Bayu Fajar Pratama 19 July 2017 / 12.49

          Hahaha oke siip ndi. Insya Allah aku kabarin lah kalau dah buka praktek ya. Tapi jangan datang sering2, jangan sering2 sakit maksutnya hahaha

          Ooh dekat ternyata haha. Di sakuntala dekat mananya? Dekat masjid?

          Like

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s