Surat Kecil untuk Tuhan

“Ibuuuuuu…” teriak seorang anak sambil keluar kamar dan berlari ke arah ibunya.

“Ada apa, sayang?” tanya ibunya.

“Boleh aku minta tolong padamu? Aku baru saja selesai menuliskan sebuah surat. Bisakah aku menitipkan suratnya kepada Ibu?” kata anak itu sambil menyerahkan sebuah amplop kepada ibunya.

“Sebuah surat? Untuk siapa?” tanya ibu sambil menyambut surat yang diserahkan anaknya.

“Untuk Allah, Bu” jawab anak itu sambil tersenyum dengan polosnya.

“Untuk Allah? Bagaimana cara ibu mengirimkan surat ini?”

“Aku hanya menitipkan surat ini kepada ibu. Ibu berikan saja surat ini kepada tukang pos. Bukankah tukang pos tahu alamat dari semua surat yang diterimanya?” kata anak itu tanpa menghilangkan senyumnya yang polos itu.

Ia hanya bisa pasrah melihat senyum polos anaknya. “Baiklah. Nanti akan ibu berikan kepada tukang pos. Tapi, apa isi surat ini? Mengapa kamu menulis surat untuk Allah?”

“Rahasia, dong. Ibu nggak boleh baca suratnya loh ya?”

Ibunya kembali takluk oleh senyuman manis anaknya itu. “Iya, iya. Ibu nggak akan baca suratnya, kok.”

Sang anak pun pergi kembali ke kamarnya setelah memberikan surat yang ditulisnya kepada ibunya. Sang ibu yang diselimuti oleh rasa penasaran yang tidak tertahankan akhirnya membuka surat itu dan membacanya.

Untuk yang Maha Agung,
Allah subhanahu wa ta’ala
di Singgasana-Nya yang Maha Mulia

Ya Allah, namaku Abdul, umur 6 tahun. Aku menuliskan surat ini untuk-Mu, sebagai balasan dari surat-surat yang Kau berikan kepadaku, kepada keluargaku, dan juga kepada seluruh umat Muslim yang lainnya.

Minggu lalu, aku melihat ibuku sedang membaca sebuah buku (kitab). Ibu tidak membacanya dalam hati, melainkan dengan suara yang merdu dan menenangkan hati ketika didengar. Aku menghampiri ibu dan menanyakan apa yang sedang dibaca oleh ibu. Ibuku menjawab bahwa itu adalah Al-Qur’an yang merupakan surat cinta yang dikirimkan oleh Allah untuk seluruh umat Muslim. Sungguh sebuah surat yang menyejukkan qalbu dengan siraman pesan-pesan rohani kepada umat Muslim.

Aku mencoba membacanya, tetapi aku bingung karena aku melihat jenis tulisan yang asing, yang belum pernah aku baca sebelumnya. Ibuku bilang, aku harus belajar membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dan ibuku bersedia mengajarkanku untuk membaca Al-Qur’an. Sejak seminggu yang lalu, aku sudah mulai belajar cara membaca Al-Qur’an dengan ibuku.

Ibu bilang aku harus banyak berdoa kepada Allah supaya dimudahkan dalam membaca Al-Qur’an. Oleh karena itu, aku mohon kepada-Mu, ya Allah, berikanlah aku kemudahan dalam mempelajari surat cinta-Mu ini. Aku ingin segera bisa membaca Al-Qur’an dan aku ingin menularkan kesejukan dari surat cinta-Mu kepada orang lain.

“Subhanallah, anakku. Semoga engkau nantinya bisa mempelajari Al-Qur’an dengan baik, dan menyebarkan ‘kesejukan’ itu kepada semua orang. Aamiin ya rabbal ‘alamin,” kata ibu sambil menitikkan air mata yang sedari tadi ditahannya.

Advertisements